FEBRUARY PENUH CINTA





Dear Facebook,

Hari ini bagaimana perasaanmu, apakah kamu baik-baik saja atau sedang gundah gulana? Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dan saya pun tidak tahu.


Facebook, kamu tahu tidak rindu yang paling menyiksa dan menghentakkan dada? Rindu yang tak pernah terbalas dan tak akan ada habisnya. Rindu yang membuat seluruh persendian dan pertulangannya rapuh dan rontok. Rindu yang tak sempat lagi diungkapkan dan diucapkan,, namun hanya bisa dilafalkan dalam doa-doa pendek. Menderas seperti hujan di musim penghujan.
Ya, rindu kepada seseorang yang kita miliki dan cintai namun telah berpulang menghadap kehadirat Illahi Rabbi. Rindu Mama tersayang yang telah berpulang kehdapanNya.

Facebook, ada sekian banyak planning yang telah ku tuliskan di notepad gawaiku. Namun banyak pula yang harus tercancel dan tak terlaksana karena sang tokoh yang harus dipersiapkan bersamaku telah tiada. Rencana - rencana tentang perjalanan ke luar kota terutama kota Kupang akhirnya terhempas. Ya, saya harus ikhlas.

Facebook, tahun ini semakin terasa berbeda. Saat kulihat kekasih mu yang mulai sakit. Dia sepertinya tidak ingin merepotkan atau membuat kami susah. Pertahanan dan egonya lumayan kuat menepis tangan kami yang ingin merangkulnya. Dia masih sombong dan menganggap bahwa dirinya masih muda dan kuat. Tapi tidak seperti itu kenyataannya.

Facebook, Desember ini hampir berlalu berganti bulan dan tahun mengikuti rotasi bumi dan revolusi matahari. Akankah rindu ini bisa kutitipkan pada sang Khaliq, bahwa senyum itu masih ingin kulihat lebih lama lagi? Terbayang ingatan ini kembali ke masa lalu, saat dia masih bersamaku. "Nona, mau makan apa eee hujan -hujan begini? Paling enak tuu makan pisang goreng dengan kopi. Kenikmatan yang tiada taranya.
Facebook, ada suatu kisah saat aku menyaksikan dirimu menangis. Waktu itu, kita sekeluarga baru saja menempati rumah
yang baru selesai dibangun. Gaji seorang guru terpaksa terpotong. Malam itu, hidangan makan malam kita sungguh di luar ekspektasi. Membuatmu merasa sangat bersalah. Mama, menangis karena menyaksikan anak-anaknya menikmati sesuatu yang tidak biasa. Tetapi ternyata ada hikmahnya. Kami bisa merasakan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain dan menempatkan diri pada posisi yang sebenarnya. Bahwa sesungguhnya hidup tidak selamanya harus berkecukupan, tetapi dengan kekurangan telah mengajarkan sikap rendah hati.

Facebook, jika ingin melihat pintu surga caranya sangat gampang dan mudah sekali. Tidak perlu pamer atau menyombongkan diri dihadapan manusia. Karena surga kita adalah saat melihatnya tersenyum. Dan kini bagiku surga itu sangat kurindukan

Facebook, setiap detik dan menit adalah rasa nyaman.Demikian pula cinta yang tak ternilai dan tak terbatas. Darah ini masih sama, seperti yang terbentuk di dalam rahimmu yang kokoh. Karena engkau Mama terbaik versiku.

Al Fatihah, Illa Ruhhi Sitti Maemunah Tulimau.
Anak Kapitan Lembur, yang berdarah Kolana.

Komentar